Hujan,
Jika hujan mampu mendamaikan jiwa ini,
Kenapa ku hanya terdiam melihatnya?
Krishna Anggara
Terlalu banyak kata yang ku ciptakan,
Terlalu sulit arti yang harus ku rangkai,
Membayangkan hari esok,
Menungguku dengan hangatnya keheningan,
Aku melupakan semua,
Semakin ku teringat,
Maka perlahan ku coba untuk kembali terlepas,
Dengan keraguan yang terus mengikat,
Aku berlari,
Bersembunyi dari kelemahanku ini,
Krishna Anggara
Terbanglah bawa aku menjauh dari dunia yang tak bisa ku mengerti dengan harapan yang menjadi asa dalam jiwa rapuhku hilang tertelan oleh keinginan yang mengiringi setiap nafas ini terbungkam dalam sunyi yang kian merajai hariku seakan tak mampu lagi ku untuk berdiri bertahan dengan pahitnya penantian yang menjadi awal bagiku untuk melupakan semua cerita ini,
Krishna Anggara
Tatkala aku menunggu,
Dirimu perlahan menjauh,
Mencoba menghargaimu,
Namun ini semu,
Salahkah penantian ini?
Tak pernah berlalu denganmu,
Terucap kata lalu kau tersenyum,
Dan aku mencari keheningan dari samudera hatimu,
Aku senang kau tertawa,
Meski ku tau semua ini akan berakhir,
Di teluk kesunyian abadi,
Krishna Anggara & Abdul Gani
Tanpa ku sadari,
Cahaya menyilaukan menahanku tuk memejamkan mata ini,
Menutup semua bayang,
Menyudutkan semua khayal,
Lihatlah,
Sang mentari menyambutku dengan hangatnya kesunyian pagi,
Hadirkan rasa yang telah lama terlelap,
Dalam dinginnya sentuhan angin malam,
Waktu bagaikan ruang kosong yang terkunci,
Menghilang dan hadir kembali,
Apakah aku bisa menunggu hadirnya sang mentari?
Bila malamku kini telah menghilang dari sepinya hariku,
Krishna Anggara
Berpikir dengan siapa aku berdiri,
Dan terlintas awan pagi mengusik tidurku,
Suara bias kini tenggelam,
Terbang dengan kertas,
Terbang dengan bebas,
Hujan, tak haruskah aku berhenti?
Berdiri dengan lelahnya kaki tuk berpijak,
Dan tak haruskah aku berlari?
Berlari dengan sepi yang terus mengejar,
Krishna Anggara